Liburan ke Komodo Day 5: Rebutan Tiket Pesawat Dari Labuan Bajo ke Bali


Live blogging from Bali


"We are flying to Bali just one minute before Komodo Airport was closed" pengumuman dari Pak Pilot membuat kami kembali bersyukur sudah berada di pesawat Garuda Explorer dari Labuan Bajo ke Bali.

Lihat boarding time nya jam 12.45. Kami naik pesawat
yang gagal berangkat siang. Banyak penumpang yang tidak
bisa dihubungi


Saya jadi ingat ketika beberapa hari sebelum berangkat ke Labuan Bajo. Sayalah yang paling khawatir pesawat kami di cancel karena Gunung Raung. Namun semua peserta yakin berangkat. Bahkan mr.husband berkata, "Udah kita pergi aja dulu, pulangnya lihat nanti."


Jam 12.00

Di lobby hotel La Prima, kami berpisah dengan @ibupenyu dan Kak Windy. Mereka akan melanjutkan perjalanan, sementara kami menunggu pesawat sore itu.

Kak Windy, @ibupenyu dan para tukik


Jam 14.00

Makan siang terakhir di Labuan Bajo

Kami lagi asyik makan siang di restoran Italia favorit kami Mediteranio, ketika Iwan datang dan menyampaikan berita yang membuat kami tegang, "Airport Ngurah Rai tutup jam 1 siang tadi dan baru buka jam 6 pagi besok! Ini Iwan di telepon sama Garuda."

"Whaaat?"

Jadwal pesawat Wings kami 15.45, sedangkan Garuda Iwan jam 16.00. Connecting flight kami Lion, berangkat dari Bali ke Jakarta pukul 6 sore. Karena tidak ada telepon atau apapun dari pihak Lion, kami langsung berangkat ke bandara.

Jam 14.30

Kami tiba di Bandara Komodo. Barulah kami membaca notifikasi tertulis di bandara bahwa pesawat Wings dibatalkan. Ealaaah susah banget kali ya buat Wings untuk ngasih tau konsumen by phone?

Pengumuman Wings hanya tertempel di tembok,
di belakang pengumuman Garuda ini.

Tiket Garuda keluarga Iwan di reschedule menjadi besok pagi. Sementara tiket Wings kami di refund. Tanpa pihak Wings mau tahu kami bisa pulang naik apa! Ketika kami tanya ada lagi jadwal pesawat kapan, petugas menjawab tgl 29 Juli. Astagfirulloh, terus kami mau ngapain aja di Labuan Bajo?

Saya googling mencari ferry ke Lombok, sambil bertanya kepada Main Dealer Honda di Mataram mengenai bandara di sana. Katanya aman. Tapi ketika saya bertanya apakah ok jika saya naik ferry ke Lombok dengan anak? He said a big NO NO!

Ketika googling, on its first page ada pengalaman Kak Halim naik ferry ke Denpasar, via Mataram. Saya tanya via sms ke Kak Halim, ia pun menyarankan tidak naik ferry ke Lombok.

Jam 15.00

Kami putuskan untuk menginap semalam lagi di Labuan Bajo. Hotel Jayakarta sedang promo di Bandara dan menawarkan kamar Rp 500 ribu per malam. Kami pun memesan 4 kamar, 2 untuk Iwan dan 2 untuk saya. Dengan free shuttle dari Jayakarta, kami diantarkan ke hotel.

Rencananya, kami akan eksekusi tiket setibanya di hotel nanti. Pada saat antre untuk membatalkan tiket Wings dan Lion, kami sudah mencari via Skyscanner, ada penerbangan dari Labuan Bajo ke Kupang besok hari. Dan kami akan lanjut dari Kupang ke Jakarta.

Jam 15.30

Tiba di hotel Jayakarta, Kiddos langsung minta renang. Eh emang keren banget pool area-nya! Tapi saya bujuk mereka, "Tunggu sampai di kamar ya!" Btw, saya nyesel enggak sempet foto-foto di Jayakarta, lagi rempong banget saat itu.

Kami membuka laptop di lobby, sementara keluarga Iwan yg sudah pasti berangkat besok pagi masuk ke kamarnya.

Saat mencari tiket pesawat, semua penerbangan sudah penuh. Bahkan Skyscanner yang sebelumnya memperlihatkan ada penerbangan ke Kupang, ketika kami klik "next" tidak membuahkan tiket. Penerbangan tercepat ke Kupang baru ada tanggal 27 Juli!

15 menit kemudian ketika kami masih kebingungan mencari tiket di lobby, ada beberapa tamu bule yang ribut, kira-kira beginilah hasil nguping saya, "Bandara Bali dibuka lagi. Pesawat Garuda akan berangkat jam 5 sore dari bandara Komodo!"

Mau pingsan rasanya!!

Saya langsung telepon Iwan untuk turun ke lobby. Kami pun bersiap dan kembali ke bandara. Kami sudah membayar kamar hotel loh, dan yah untungnya udah sempat main sebentar di sana juga numpang ke toilet:D

Rombongan yang dibatalkan Wings pun ikut berangkat. Kami akan go show saja, karena kami tadi siang melihat ada dua pesawat Garuda Explorer di Bandara.

Jam 16.10

Kami tiba kembali di Bandara Komodo. Keluarga Iwan bisa langsung boarding, sementara keluarga besar saya berjumlah 8 masuk waiting list. Sempat pesimis, "Waiting list yang terbang biasanya hanya 2 orang" kata petugas dengan ketus. Saya mengerti pasti dia stress dikerubuti penumpang sejak siang. Kakak saya, Cia, menjawab baik-baik, "Ok Pak, tapi kami boleh ya menulis nama kami saja dulu?" Ia pun mengangguk.

Kehebohan rebutan tiket Garuda Indonesia

Cia kemudian menuliskan nama kami ber-8. Dan petugas masih dengan jutek memperlihatkan daftar penumpang yang harus ia hubungi. Saya pasrah, tidak berhenti meminta dan berdoa, "Ya Alloh bantulah kami..."

Alhamdulillah Kiddos sama sekali tidak rewel. Mereka asyik main kartu, sambil duduk dan menjaga koper dan backpack kami. Well done boys!

Jam 17.00

Petugas bandara mengumumkan 15 seats available. Nah kebayang kan rebutan seperti apa? Entah siapa yg mulai, keluarlah kartu GFF (atau namanya Garuda Miles sekarang). Pertolongan Alloh SWT lah kartu Garuda Miles saya ada di dompet (biasanya ada di rumah), jenisnya pun kebetulan gold. Katanya gold first priority karena tidak ada yang punya platinum dari beberapa penumpang yang mengeluarkan kartu Garuda Miles saat itu.

"This is our company rule, Garuda Miles member get first priority on the waiting list" begitu petugas yang nampak seperti leader di bandara Komodo menjelaskan kepada para calon penumpang yang rebutan kursi pesawat ke Bali di meja kecil.

Tapi kan yang gold cuma saya, keluarga Kakak Ipar saya dan mr.husband kartu Garuda Miles nya blue. Sementara itu di group kami 2 anak dan 2 dewasa tidak ada kartu Garuda Miles.

Saya coba dekati petugas yang tadi berbicara, saya perlihatkan luka Kiddos#2 yang bibirnya sobek waktu jatuh di kapal. "Pak, kartu saya gold, tapi kan anak saya enggak punya. Saya butuh ke rumah sakit memeriksa luka anak saya", ucap saya setengah memohon. Sang Bapak menjawab seraya menunjuk temannya di belakang meja, "Ibu bilang aja sama petugas." katanya. Saya jawab, "Sudah Pak, tapi enggak didengar". Somehow, at that point of time I knew I had won his heart. Tapi dia pun enggak bisa berbuat banyak.

Traveler bule marah-marah, "Life is unfair. Everyone has Garuda Miles here. We are Spanish we don't have that card". Dia juga protes sama group kami "Not all of you have cards, how can you all on the list?" Saya jawab, "I am traveling with my children". Dia jawab nyolot, "So you can stay here with your children!" Saya udah kesel banget, "I need to go to the hospital, my son fell on the boat yesterday". Dia akhirnya diam. Kalau masih nyolot, mau saya kasih liat bibir Kiddos#2 yang robek.

Jam 17.30

Petugas sudah mencetak satu lembar dengan 8 nama kami terdaftar di dalamnya (total ada 15 nama disitu). Kami antre lagi untuk mendapatkan tiket. Satu per-satu nama kami dipanggil. Kami harus membayar per-orang Rp 1.750.000. Mahal kan?! Tapi kami tidak bisa menunggu sampai tanggal 29 Juli untuk kembali ke Denpasar!

Sementara itu Iwan dan keluarga yang sudah ada di pesawat terus memantau kami via WA group, "Tes gimana?" Saya jawab, "Aku ama Arkan udah, dua lagi belum".

Saat itu bapak petugas yang sudah melihat luka Kiddos#2 mendekati saya, "Ibu gimana udah dapat tiket?" Saya jawab bahwa tinggal menunggu tiket untuk mr.husband dan Kiddos#1.

Jam 17.45

Deru suara pesawat sudah terdengar, kami harus segera berangkat. Akhirnya saya dan Kiddos#2 duluan boarding. Kami lari-lari ke landasan pesawat. Bangku kami terpisah jauh, saya nomor 29 dan Kiddos#2 nomor 37. Untungnya ada dari rombongan kami yang duduk di nomor 29. Jadi kami sibuk berganti tempat duduk setibanya di atas pesawat.

Saya mulai mengirimkan WA lagi ke group, "Semua udah dapat tiket, tinggal nunggu masuk pesawat, Wan". Ternyata Iwan ada di pesawat belakang kami. Jadi setelah konvoi dua kapal dari Labuan Bajo ke Komodo, sore itu kami konvoi dua pesawat.

What an experience!

Jam 17.59

Kedua pesawat Garuda Explorer kami terbang dari Bandara Komodo ke Denpasar.

Sore itu ditutup dengan melihat kebesaran Alloh SWT dengan indahnya horizon di kala sunset.

Sunset yang kami nikmati dari pesawat

Rasanya saya ingin menangis ketika berdoa di dalam hati, "Terimakasih Ya Alloh atas pertolongan-Mu" Semuanya bisa berangkat dalam satu pesawat. Awalnya tidak mungkin, namun karena pertolongan-Nya segalanya jadi mungkin.

Jam 19.30

Pesawat mendarat di Bandara Ngurah Rai Bali, semua bertepuk tangan tanpa terkecuali. Yaa.... setelah kehebohan di Bandara Komodo tadi, seluruh penumpang lega dan bahagia bisa tiba di Bali.

At least sudah sampai di Bali, naik bus ke Jakarta pun bisa. Pesawat lebih banyak pilihan. Atau jika harus extend di Bali, mencari transport lebih mudah dibandingkan di Labuan Bajo.

Alhamdulillah tiba di Bali

Kami mengambil bagasi dan pergi ke gate keberangkatan. Lalu kami menuju ke ruangan di sebelahnya, ada counter penjualan Lion, Garuda, Air Asia dan lainnya.

Bertemu lagi dengan keluarga Iwan di bandara

Keluarga Cia antre di Garuda, akhirnya ia mendapatkan pesawat Garuda jam 1 malam itu juga. Kami awalnya antre di Lion, memeriksa apakah pesawat kami ke Jakarta masih bisa berangkat. Namun tiket kami sudah confirmed cancel, dan ketika ingin membeli yang baru, petugas mengatakan baru ada hari Senin tanggal 27 Juli! Apaah??!

Di counter Lion Bandara Ngurah Rai

Sementara itu sepupu kami Tante Princess karena tidak bisa memperlihatkan kartu kredit saat di Bandara Komodo, tiketnya belum ter-cancel. Ia bisa berangkat dengan Lion malam itu. Horeee... :)

Keluarga Iwan menginap semalam di Bali, karena memang jadwalnya baru besok berangkat ke Bandung.

Akhirnya kami antre di counter Air Asia. Saya sudah memeriksa harganya ada yang promo namun untuk keberangkatan tgl 27 Juli jam 9 malam! "Ibu berapa orang?" tanya petugas Air Asia. Saya jawab, "Empat Pak, yang tercepat available kapan ya?" Ia lalu menjawab," Hari Sabtu jam 6 sore. Atau kalau mau hari Minggu banyak pilihan jam nya."

GLEK!!

Saya dan mr.husband saling berpandangan, akhirnya kami eksekusi juga tiket Air Asia dan memutuskan untuk memperpanjang liburan kami di Bali. Harga tiket kami ke Jakarta sama dengan biaya refund yang akan dibayarkan oleh Lion ke kartu kredit saya.

Langkah berikutnya adalah memesan hotel, dan setelah berkonsultasi dengan teman kantor di Denpasar, ia menyarankan di Sunset Road agar dekat dengan Siloam Hospital. Kami akan memeriksakan luka Kiddos#2 di sana.

Suasana saat itu, Kiddos ngantuk. Sementara saya pesan hotel via smartphone


Sejurus kemudian kami sudah ada di taksi menuju Harris Sunset Road. Kami hanya booking satu malam saja, karena belum tahu akan kemana di Bali. Amed? Lovina? Nusa Lembongan? Hmm kayanya di hotel aja deh, berenang:D Saat saya menulis posting ini, kaki masih lemes rasanya melewati semua ketegangan di Bandara Komodo.

Begitulah kisah kami hari kemarin... Kami sangat bersyukur sudah tiba dengan selamat di Bali.

Ketika traveling bersama keluarga tidak sesuai rencana, sabar aja, yakinlah semua sudah ditakdirkan. Kekompakan keluarga besar kami juga diuji hari ini. Alhamdulillah kami bisa melaluinya dengan baik.

Dan yang paling penting hari ini kami kembali diingatkan bahwa pertolongan Alloh SWT akan datang dari segala arah jika kita terus berdoa. Alhamdulillah.


written on July 23, 2015 by @tesyasblog


tesyasvlog Komodo:

See our video during our family trip to Komodo Day 1 in this link.


Previous Post:
PS: lanjutan liburan ke Komodo Day 3 dan 4 nya akan ditulis menyusul ya!


30 comments:

  1. Seru banget. Alhamdulillah kiddos gak rewel, dan kalian aman2 & sehat. Semoga kiddo#2 binirnya cepat pulih dan kalian bisa segera kembali ke Jakarta dgn aman sentosa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Tante Vira, kami masih tegang nunggu hari Sabtu tiba. Amiiin, semoga lancar kembali ke Jakarta.

      Delete
  2. Ikut tegang pas terima sms kak Tesya, syukurlah semua lancar meski dapat tiket mahal ya hehehe. Petualangan keluarga tesyablog! ^_^
    Ditunggu keseruan extend di Bali nya, kak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya Kak Halim untuk petunjuknya. Enggak kebayang kalau saat itu aku maksain pake Ferry...

      Delete
  3. Tegang banget mbak Tesya liburannya... ga tau deh kalo misal kejadian sm aku, pasti dah panik abis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama kok Mba Sheni aku pun udah panik abis, apalagi pas tau susah pulang dari Labuan Bajo kalau enggak pake pesawat ke Denpasar. Jadi saat itu kami bener-bener beruntung bisa sampai ke Bali...

      Delete
  4. whew, efek gunung raung ini lumayan juga ya :O tetapi namanya juga musibah, demi keselamatan penerbangan dan orang banyak. Yang penting bisa pulang deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak Fahmi, masih nunggu besok hari Sabtu 25 Juli untuk pulang ke Jakarta. Doain lancar ya.

      Delete
  5. Ga kebayang ya kak apalagi dengan jumlah pasukan segitu. Cukup riweh. Tapi untung yaa. What an experience bgt ini. Aku tegang bacanya (duuh absurb nih tegang apaan coba :p)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Bob, it's the perks of traveling with family:D
      Aku ampe lemes kaki sehari setelahnya juga. Hahahah...

      Delete
  6. Oke, aku bacanya aja udah kerasa banget serunya mbak :3 aaaaah keren :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman deh ya Kak, libur lebaran plus efek gunung raung.

      Delete
  7. Ya ampun aku ikut deg-degan deh baca posting ini. Tapi kejutan-kejutan kayak gini yang nambah pengalaman liburan ya mbak, walaupun pas dijalanin bikin emosi tingkat tinggi.

    Btw… Mbak Tesya kerja di Honda motor kah? Dulu alm. papaku kerja di AHM.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak...iya Alhamdulillah ketika menjawab komen ini, kami udah kembali di rumah:)
      Ohya dulu di AHM juga Almarhum Papa nya?

      Delete
  8. Watta memorable experience... Mba kiddos #2 kenapa? Aku yang kelewatan baca cerita atau mmg belum diceritain? Smoga smua sehat2 sampai di rumah ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Fluory, jatuh di boat pas pagi hari terakhir, dan bibir dalamnya sobek. Iya belum aku ceritain memang Mbak hehe.
      Alhamdulillah udah nutup sekarang sobeknya. Makasih doanya Mbak.

      Delete
  9. Jd ngiri, pgn bisa jalan2 jauh kya mbak :(

    ReplyDelete
  10. Seru mba Tesya. Dan thanks everything is fine.
    Mba, aku coba nulis kayak tulisan mba ini wah kalimatnya msh amburadul. Hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Adit, mana link nya aku mau bacaaaa!

      Delete
    2. Wuaaaaaa...
      Heran gw mba, nulis kok kalimatnya blm bisa flowing kayak mba tesya gitu yah.
      Hehehehehe

      Delete
    3. Mana sih coba kasih donk link nya:D

      Delete
  11. Kak Tesya hebat banget masih bisa ngeblog dan foto2 disaat seperti ini :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha biar ada kenang2an Kak Nanda :)

      Delete
  12. Hallo Tesya, salam kenal... Blognya keren banget.... Kok baru nemu sekarang ya? Keluargaku juga suka travelling..... Seneng deh baca pengalaman travelling kalian.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Kak, salam kenal ya:)
      Iya kok aku juga baru nemu skrg. Aku masukin blog nya ke list Indonesian Family Travel Blogger apakah boleh?

      Delete
  13. Kami sedang mengalami hal yg sama, tesya, tertahan dk labuan bajo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Donna, what an experience ya Mbak (:

      Delete
  14. hihihihi seru mba...semangat. tapi kok...kalo sering travelling...sering sering gitu yah. alamaaaak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, jadi ambil pelajaran untuk beli asuransi pelajaran aku sih hehe.. Semoga kasus Mba bisa selesai dengan aman dan damai ya.

      Delete