Camping di Dusun Bambu: Pengalaman Bermalam di Tenda Mewah


Setelah menulis tentang kunjungan pertama ke Dusun Bambu, saya mengajak beberapa keluarga untuk camping bersama di Eagle Camp, sebuah exclusive camping ground yang berada di dalam kompleks Dusun Bambu Lembang. 6 keluarga mendaftar, dan keesokan harinya, saya menelepon Dusun Bambu memesan 5 tenda untuk pertengahan Oktober. FYI, pemesanan saya lakukan dua bulan di muka.

Satu bulan kemudian, saya menerima telepon dari Dusun Bambu. "Hallo dengan Bu Tesya? Ibu jadi memesan 9 tenda?" Hah? Banyak amat? Telepon dari staff Dusun Bambu sudah saya klarifikasi bahwa saya hanya memesan lima tenda. Dua minggu kemudian, saya ditelepon dan ditanya hal yang sama: apakah saya memesan 9 tenda. Saya menjawab dengan sabar, "Enggak, Mas cuman lima tenda. Dan confirm ya, jangan dikasih ke orang lain"

Satu minggu sebelum hari H, saya kembali dihubungi via telepon. Kali ini catatan mereka sudah betul, saya memesan lima tenda. Terpaksa saya cancel satu, karena tiga keluarga batal berangkat, namun ada satu keluarga lain yang mendaftar. Telepon yang intens ini menunjukan betapa camping di Dusun Bambu selalu fully booked.  


Pintu masuk ke area tenda


Day 1 - Saturday

Perjalanan dari Jalan Ciumbuleuit ke Lembang

Karena masih terlalu pagi, dari Jakarta, kami mampir sejenak untuk sarapan di Miss Bee, restoran yang sedang hits di Bandung, sohor karena taman yang menyenangkan untuk anak.


Siapa yang enggak betah makan di Miss Bee?

Dari Miss Bee, saya menyalakan aplikasi waze dan mengetik tujuan: Dusun Bambu.

"Lah, ini kok waze nyuruh kita balik arah ke Setiabudi?" saya menyatakan kebingungan saya kepada mr.husband.

"Terus lewat mana donk?" sang driver pagi itu enggak kalah bingung, melihat saya bingung.

"Mustinya bisa ada jalan tembus dari Ciumbuleuit ke Lembang via Punclut" jawab saya setengah ragu-ragu karena belum pernah.

"Ya udah, ini terus kemana? Kamu kan yang orang Bandung" kata mr.husband. Dan saya kembali menatap nanar layar peta dari waze -_-

Saya memutuskan mencoba mengambil jalan pintas dari Jalan Ciumbuleuit menuju Lembang. Waze pun berganti arah sesuai jalan kecil yang kami lewati. Setelah melewati jalan yang menanjak, kemudian menyempit ketika mulai masuk ke area perumahan, akhirnya saya melihat bangunan yang sudah saya kenal.

"Ooo ini Pasar Lembang, tembus disini toh" saya pun lega dan mematikan aplikasi waze di hp saya. Ternyata kami tembus tidak jauh dari Lembang Floating Market. Keren kan jalan alternatifnya? 30 menit kemudian, kami tiba di Dusun Bambu. Status saya sebagai "orang Bandung" selamat hari itu. Kalau saya tersesat, malu donk sama mr.husband:p


Selamat Datang di Tenda Idaman :)

Jam 12 siang kami diantar petugas ke tempat parkir tenda. Jika pengunjung lain harus menggunakan wara-wiri untuk menuju Pasar Katulistiawa, kami mendapatkan privilege masuk ke Dusun Bambu menggunakan mobil. Ohya, enggak bayar tiket masuk pula, tinggal menyebutkan nama pemesan tenda.  

Saya turun ke Reception, membayar Rp 6.250.000 untuk empat tenda yang kami pesan. Tenda single harganya Rp 1.750.000 untuk dua orang (weekday Rp 1.400.000), sedangkan tenda double harganya Rp 2.750.000 untuk empat orang. Mahal? Menurut saya sih iya, tapi baca dulu tulisan ini sampai habis. Harga kami bagi rata empat keluarga, sehingga per keluarga membayar Rp 1.600.000.

Note: Keluarga yang terdiri dari dua dewasa dan dua anak, bisa banget kok pesan satu tenda tanpa kasur tambahan. Kalau mau, tinggal tambah breakfast untuk anak Rp 37.500 nett.

Urusan bayar membayar selesai, kami diantar motor naik ke area paling atas dari Dusun Bambu, tempat tenda kami menunggu.

Begitu membuka pintu pagar (jadi setiap tenda ada pagar dan halaman sendiri donk!), kiddos berhamburan ingin segera melihat tenda. Saya senyum-senyum sendiri, terpana melihat area tenda yang keren, alat barbeque yang sudah siap, area api unggun, dan kamar mandi yang seperti di hotel.


Tenda nya punya living room loh..
Alat untuk barbeque sudah siap :)


Menikmati Sunset dan Dinner di Restoran Burangrang

Setelah sepanjang sore bermain di Dusun Bambu, kami pergi ke restoran Burangrang. Saya pernah melihat di salah satu blog bagaimana kerennya sunset dari restoran ini. Kami pun masuk dan setuju memesan menu paket BBQ seharga Rp 75.000++ per orang. Kiddos saya pesankan nasi goreng seharga Rp 45.000++.

Kami sengaja duduk di gazebo, sambil menunggu keluarga @zkhairi tiba dari Jakarta. Rasanya damai banget duduk di Gazebo dengan pemandangan restoran Purbasari di bawahnya. Di sebelah kanan matahari terlihat mulai terbenam. I loved it :)




Santai dulu di gazebo


Kami di Burangrang hingga makan malam yang ditemani alunan musik dari sebuah band. Kiddos mendekati penyanyi dan minta lagu dari Tulus berjudul Gajah. Sayangnya Oom penyanyi hanya bisa lagu dari penyanyi Tulus yang berjudul Sepatu. 

Suasana romantis di Burangrang Restaurant


Barbeque dan Api Unggun di Tenda

Iwan dan Ulan, keluarga yang menempati double tent mengirimkan pesan via whatsapp "Tes, ada kepiting kenari dari temennya Iwan nih" Mereka tidak ikut santap malam di Burangrang dan memilih menyantap barbeque yang disediakan oleh pihak Eagle Camp. Harga bbq ini Rp 1 juta untuk lima orang. Tapi sesunggunya porsinya untuk 8 orang, banyak banget!

Ketika kami tiba di kemah Iwan, ada dua orang staff Eagle Camp yang tengah melayani membakar bbq, walah kami dimanja betul ya! Kami pun makan (lagi dan lagi!) di tenda Iwan dan keluarga. Kepiting kenari serta Sate Maranggi Cibungur yang dibawa @zkhairi pelan-pelan kami sikat sambil ngobrol. Udara dingin membuat perut terus minta diisi. Alasan ya, padahal emang doyan aja:D

Karena orangtua Iwan sudah beranjak masuk tenda, kami tidak mau mengganggu, dan pindah ke tenda @zkhairi. Kami panggil lagi staff Eagle Camp melalui telepon yang ada di tenda (did I mention didalam tenda ada telp yang bisa kami gunakan menghubungi front desk?). Kami minta dinyalakan api unggun juga alat barbeque yang ada di tenda kami. Yulia, istri @zkhairi, membawa sosis dari Jakarta yang memang rencananya dibakar pada saat pesta barbeque.


Pengalaman pertama kiddos dengan api unggun


Jadilah kami tinggal di tenda tetangga kami itu hingga jam 11 malam, ditemani api unggun, sosis panas, bintang yang bertaburan di langit, dan sinar bulan yang terang. Malam itu adalah kali pertama kiddos menikmati api unggun. Dan tentunya, mereka seneng banget! Sayangnya kami lupa nyanyi lagu Kemesraan:p


Kedinginan di Dalam Tenda

Alamak, it was super duper cold, seriously! Iyalah, Lembang di saat musim kemarau itu memang dingin banget! Untungnya kami membawa satu selimut tambahan, kaos kaki kiddos (walaupun kaos kaki untuk sepatu bola), dan sweater dengan penutup kepala. Kami kenakan semuanya kepada kiddos, berharap mereka bisa tidur nyenyak.

Ohya, kami juga membawa satu kasur lipat tambahan. Kasur yang disediakan di dalam tenda keras banget macam batu. Kiddos sih enggak protes, mereka tidur dengan nyenyak. Saya aja yang begitu bangun, langsung sakit badan. Oke deh, mungkin karena "faktor U".



Day 2 - Sunday

It Was Like Having Dusun Bambu for Ourselves

Esok harinya kami berjalan kembali ke restoran Burangrang, makan pagi untuk tamu yang camping di Dusun Bambu disediakan di restoran ini. Kami sempatkan main di playground yang sepi tanpa pengunjung, juga bermain bola di lapangan yang cukup luas.







Breakfast Dengan Pemandangan Spektakuler

Harga tenda yang kami bayar, including makan pagi di restoran Burangrang untuk dua orang dewasa. Dari empat keluarga, hanya saya yang diminta membayar tambahan untuk kiddos#1. Ohh... why me?

"Sesuai peraturan, yang gratis hanya anak s.d usia 6 tahun Bu" jawab staff restoran, ketika saya minta di-gratis-kan. Ya udah deh, saya pun membayar Rp 37.500, sementara kiddos#2 tidak perlu membayar. Saya enggak tau kenapa Mba itu enggak nagih juga ke keluarga @Zkhairi, keluarga Ulan ataupun keluarga Iwan.


Kiddos2 tengah menikmati pemandangan


Kami kembali memilih duduk paling depan, di kursi malas. Sebetulnya susah makannya sih, tapi mau gimana lagi, itu permintaan kiddos. Menu makanan lumayan beragam: bubur ayam, nasi uduk, kwetiau goreng, egg station, pancake station, berbagai roti, cereal dan buah. Sip banget deh makanannya.

Tapi saya ga bisa berlama-lama di sana, kiddos sudah minta main di sungai, sejak mereka bangun tidur. Padahal saya bisa duduk di restoran Burangrang berjam-jam sambil menikmati makan pagi. Errrrr...


Check-out dari Tenda

Jam 10 pagi, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Pagi itu tenda sangat panas, saya sudah tidak betah berlama-lama di dalam tenda yang panas.

Sewaktu check-out, di Reception saya ditanya, apakah ada masukan untuk tenda mereka? Saya katakan, tendanya harusnya menyediakan kipas angin, karena waktu pagi dan siang lumayan panas. Aduh, saya lupa menyampaikan pesan Yulia, katanya ia minta disediakan kulkas untuk menyimpan sosis yang ia bawa dari Jakarta:D


***

Pengalaman camping di Dusun Bambu ini pastinya menambah deretan pengalaman camping kami (lah, wong baru dua!), setelah sebelumnya kami camping di pantai. Mr.husband sudah memberikan rekomendasi tempat camping lain di Sukabumi, dan saya pun sudah menyatakan setuju. Namun, hingga saat ini, saya masih ragu untuk menjawab "iya" atas ajakan mr.husband camping di Ranca Upas.

"Ini sih camping-camping-an" protes mr.husband ketika kami pertama tiba di Dusun Bambu. Tapi yang "camping-camping-an" kaya gini ini yang cocok untuk princess wanna be kaya saya. Setuju kan?


written on October 13, 2014 by @tesyasblog




Where else to stay in Lembang? Read our reviews here:
Kastuba Resort
Green Forest



Check-out Bandung's Best Family Hotel:
Sheraton Bandung Hotel & Towers




Other Places We've Gone for Our Glamping:

13 comments:

  1. kamu ga foto bagian dlm tendanya ya mba :) penasaran..yg kliatan tmpat tidurnya.. ama kamar mandinya jg ;)

    mongolia camp yg di Bogor aja blm smpet aku cobain udh ada ini lg :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti Fan, akan tayang di tesyasblog. Susye ya manage 2 blog hahaha
      Daripada Mongolia Camp keren yang ini Fan..

      Delete
    2. waahh, hahahaha aku br tau kamu ada 2 blog :D.. HIhihii...yo wis ntr aku cek jg. aku cm save yg ini doang soalnya

      Delete
    3. Iya Fan, awalnya memang tesyasblog.com duluan. Baru deh tesyaskinderen ini muncul. Asyik, save dua2nya ya:D

      Delete
  2. wow seru banget ya mba ternyata kemping disini...wanna try next time ah :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seru banget, aku pun pengen balik lagi hahah :D

      Delete
  3. serunya camping bersama keluarga.

    enaknya tinggal di bandung banyak wisata buat dikunjungi seperti stone garden, bisa liat di http://enjoybackpacker.blogspot.com/2015/02/machu-picchu-dari-padalarang-bandung.html

    Selamat Treveling :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Mas untuk rekomendasinya

      Delete
  4. Wah, seru banget ya, thanks Tes atas sharingnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you Mas John udah mampir:)

      Delete
  5. Mbak.. recomended kemping di dusun bambu atau tanakita? Untuk pemula hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku lebih suka Tanakita karena nuansa alamnya lebih dapet.
      Tapi kalau khawatir karena pemula, coba di Sari Ater Camping Park Mba. Hehehe..

      Delete
  6. Mbak Tesya nanya donk, 2 dewasa 2 anak itu kira2 umur berapa yach? Lumayan mahal ya kalau tenda double jadi kalo bisa sih single aja hehe.. anak2ku dah lumayan gede soalnya..

    ReplyDelete