Mengajukan Visa Ke Jepang Untuk Anak: The Do's and Don'ts


Sore sebelum pulang kantor, saya mengirimkan whatsapp kepada mr.husband, "Aku bisa ke kedutaan besok pagi". Hebohlah kami malam itu: foto untuk aplikasi visa dan fotocopy dokumen. Untungnya mr.husband yang rajin sudah mengisi form aplikasi pengajuan visa untuk kami berempat.

Sebelum tidur, ia menunjukan dokumen-dokumen kepada saya. Dalam keadaan setengah sadar, saya jawab "iya" aja. Besok paginya di kantor, saya panik, dokumen belum disusun rapih. Karena ternyata dokumen wajib diurutkan. Jadilah pagi-pagi saya menyusun dokumen seperti dulu ketika merapikan working paper untuk audit report. Hahaha..


Visa application form yang belum saya beri foto


Memang kesalahan saya sih, enggak pernah baca-baca website Kedubes Jepang ataupun tulisan di travelblog mengenai pengajuan visa Jepang. Mau gimana... saya paling males ngajuin visa! Haduh... jangan ditiru!

Jadi, pagi itu saya baca blognya Bubu, dan whatsapp Bubu dan @alencantiek menanyakan dokumen apa aja yang saya masih ragu untuk di submit atau enggak. Thank you ya Bubu dan @alencantiek!

Dokumen Yang Dibutuhkan Untuk E-Passport

Visa ke Jepang untuk saya dan mr.husband yang sudah memiliki e-passport memang gratis. Namun kami tetap harus melakukan registrasi, dengan menyerahkan sehelai dokumen waiver. Dokumen tersebut diserahkan ke kedutaan Jepang, esok harinya paspor yang berisi visa Jepang bisa diambil. And that's it. Informasi lengkapnya, silahkan baca di sini.

Tapi permasalahannya, kedua Kiddos paspornya bukan E-Passport, jadi kami bingung apakah perlu menyertakan dokumen seperti aplikasi visa untuk orang tua, surat keterangan kerja dan rekening koran?

Atas dasar pengalaman mengajukan visa Australia dimana kami melengkapi semua dokumen (baik yang diminta atau tidak:p), ya sudah akhirnya mr.husband mengurus rekening koran dan surat referensi dari bank. Sedangkan akhirnya saya hanya minta surat keterangan kerja aja dari kantor.


Dokumen Yang Dibutuhkan Untuk Paspor Biasa

Dokumen yang dibutuhkan untuk mengajukan visa Jepang sebetulnya enggak ribet, detailnya bisa dilihat disini ya.

Dokumen yang kami submit adalah sebagai berikut:
1. Aplikasi visa kedua Kiddos dilengkapi pas foto. Ukuran foto cukup unik, berbeda dengan foto visa negara lain. Background pun harus putih. Jangan sampai salah foto ya.
2. Copy akte kelahiran kedua Kiddos.
3. Copy kartu pelajar kedua Kiddos.
4. Copy kartu keluarga.
5. Jadwal perjalanan, formatnya harus di download di website Kedubes Jepang. Catat: jangan bikin format sendiri ya!
6. Tiket pesawat pp.
7. Dokumen waiver untuk saya dan mr.husband yang memiliki e-passport.
8. Paspor asli.
9. Surat keterangan kerja dari kantor saya.
10. Surat keterangan kerja dari kantor mr.husband.
11. Rekening tabungan dan surat referensi Bank.
12. Aplikasi visa untuk saya dan mr.husband, dilengkapi pas foto.
13. Bukti pemesanan hotel, dan surat referensi dari teman dimana saya akan menginap di apartemennya. Nomor 13 ini tidak diminta, kami hanya jaga-jaga saja.

Ketika berada di depan counter imigrasi kedutaan Jepang, inilah yang terjadi: dokumen nomor 10 hingga 13 dikembalikan. "Ibu dan Bapak kan punya e-passport, kami hanya perlu satu lembar dokumen waiver", begitu kata petugas berjilbab yang sangat ramah.

Ia melanjutkan, "Ibu yang di H**** ya? Saya ambil suratnya ya" Dan dokumen nomor 9 pun ia ambil.

Saya menatap nanar rekening koran dan surat referensi Bank yang sudah diurus oleh mr.husband, serta pas foto saya dan mr.husband yang tertempel di aplikasi visa. Tau gitu enggak usah foto! Huhuhu...

So.... bacalah sebanyak-banyaknya informasi sebelum mengajukan visa Jepang dan visa manapun. Kira-kira begitulah yang saya katakan kepada diri sendiri:D


Perlukah Menyertakan Rekening Koran Untuk Mengajukan Visa Jepang?

Saya tulis bagian sendiri nih mengenai rekening koran dan surat referensi Bank. Jadi jelas ya, jika sudah punya e-passport tidak perlu.

Dan ada satu informasi lagi yang kami baru tau dua hari sebelum mengajukan visa Jepang: ada beberapa pihak yang memang diberi privilege untuk tidak perlu menyertakan informasi keuangan, bahkan jika memegang paspor biasa:
- Karyawan perusahaan joint venture antara Indonesia dan Jepang 
- PNS
- Karyawan BUMN
- lainnya dibaca di website imigrasi Jepang ya.

Misalnya kasus saya, istri kerja di joint venture Indonesia dan Jepang, padahal suami tidak. Maka tidak perlu menyertakan laporan keuangan untuk satu keluarga. Hal-hal seperti ini luput dari perhatian kami. OMG!


Lokasi Kedutaan Jepang di Jakarta

Untuk submit aplikasi visa Jepang, datanglah sesuai waktu yang disediakan ke kedutaan Jepang yang berada di Jalan Thamrin, sebelah Plaza EX. 

Jika membawa mobil, parkir aja di gedung EX, dan jalan kaki ke kedutaan Jepang.


Salah satu gedung untuk alternatif tempat parkir
Kedubes Jepang di Jakarta terletak tepat di sebelah gedung ini



Jam Kerja Kedubes Jepang Bagian Visa

Untuk informasi mengenai jam kerja bagian Visa di Kedubes Jepang Jakarta, silahkan klik link ini.

Beberapa blog yang saya baca menyarankan untuk tiba di pagi hari dan siang jam 1 sebelum counter untuk pengambilan paspor dibuka. Namun, saya hanya bisa datang 30 menit hingga 1 jam sebelum counter imigrasi ditutup.

Pada saat submit form, saya tiba jam 11, padahal loket imigrasi tutup jam 12. Saya menunggu sekitar 1 jam sebelum nomor antrean dipanggil. Not bad kan?

Pada saat mengambil paspor, saya tiba jam 14.30, padahal loket imigrasi tutup jam 15.00. Nekad amat! Tapi cepet kok, jam 15.15 saya sudah keluar dari gedung Kedubes dengan perasaan lega karena visa sudah granted.

Biaya pengajuan visa satu kali kunjungan untuk kedua Kiddos adalah Rp 660.000 dan harus dibayar tunai. Untuk biaya pengajuan visa ke Jepang, silahkan dibaca di website Kedubes Jepang.


Kuitansi pembayaran visa untuk kedua Kiddos


Tegang Mencari Lem di Kedutaan Jepang

Yaelah ini sub-judulnya enggak banget sih! Tapi inilah kenyataan hidup, saya sibuk mencari lem di Kedubes Jepang. Mr.husband tidak menempel foto pada aplikasi pengajuan visa. Jadi saya pikir, mungkin memang enggak perlu ditempel. Mungkin perlu lebih dari satu foto. Semua mungkin, saya hanya berasumsi.

Begitu saya duduk di bangku yang tersedia di depan counter pengajuan visa, saya lihat semua menempel foto pada lembar aplikasi. Saya bertanya kepada Bapak di sebelah, ternyata katanya foto hanya butuh satu dan perlu ditempel. Alamak!

Jadi selama menunggu nomor antrean, teganglah saya mencari lem! Hahaha..

"Mas, saya lagi cari lem, katanya ada di meja ini" tanya saya kepada seorang Mas yang berdiri di dekat meja besar yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia menjawab, "Saya juga lagi cari lem Mba." Dalam hati saya bersyukur, Alhamdulillah ada temen #eh.

Karena tidak ada di kedua meja besar, saya menyerah dan duduk. Saya protes kepada mr.husband via whatssapp. Kenapa fotonya tidak di lem. Mr.husband berasumsi saya akan menempelkan foto tersebut di kantor. Baiklah, memang salah saya enggak baca lengkap dan sok tau enggak nanya:p

Melihat saya gelisah, Bapak di belakang saya memberikan saran, "Mba, samperin aja itu yang dari travel agent, biasanya mereka bawa." Saya pun berjalan ke bagian paling kiri dan mendekati kumpulan Mas-Mas di sana. "Mas, saya lagi cari lem..." dengan suara memelas yang tidak dibuat-buat. Saya emang lemes nyari lem!

Alhamdulillah ada. Aduh lega banget ketemu lem di kedutaan Jepang! Terus ya gitu deh, aplikasi yang saya sudah lengkapi dengan foto saya dan mr.husband itu dikembaliin aja gitu karena tidak diperlukan. Sakitnya tuh kalau ingat perjuangan cari lem! Hahahaha.. 


Bawalah Air Minum

Menunggu di kedutaan Jepang itu enak, handphone masih boleh nyala walaupun dilarang mengambil gambar dengan handphone. Enggak seperti waktu kami mengajukan visa Australia maupun New Zealand. Dengan ketat handphone harus dimatikan. 

Tapi satu hal, di kedutaan Jepang enggak tersedia air minum. Jadi saya menahan haus karena air minum ketinggalan di mobil. Sementara di AVAC, tempat pengajuan visa Australia dan New Zealand, fasilitasnya lengkap. Galon serta gelas bersih, bahkan mesin fotocopy juga tersedia.


Ingat, Jangan Sampai Terlewat Nomor Antrean!

Saat masuk ke bagian visa Kedubes Jepang, saya bingung karena melihat banyak sekali orang. Saya lalu berjalan ke mesin untuk mengambil nomor antrean. Menekan A untuk tombol Visa di mesin antrean, dan mendapatkan secarik kertas bertuliskan nomor antrean saya A131. Saya harus menunggu 54 orang lagi saat itu.

Terdapat 5 counter di sana, 3 counter A untuk pengurusan visa (salah satunya khusus untuk travel agent), dan dua counter B untuk urusan lain. Sekitar jam 11.30, counter pengurusan visa bertambah satu, sehingga nomor antrean bergerak cepat.

Seorang Mba kece terlihat berlari kecil ke counter, saya duga dia dari toilet. Oeps, nomornya terlewat! Dengan tegas petugas meminta Mba kece ini untuk mengambil nomor antrean ulang! Kasian bener! Mba kece enggak mau, setelah 10 menit negosiasi, barulah ia diperbolehkan submit dokumen.

Begitu juga dengan Bapak yang duduk di sebelah saya. Ia bingung karena nomornya A129, namun counter yang memanggil adalah counter B. Kemudian nomor berganti menjadi nomor saya: A131. Ketika Bapak tersebut mendekat ke counter, petugas menyatakan dengan tegas bahawa nomornya sudah terlewat, dan mempersilahkan saya untuk maju ke counter. Duh, saya jadi merasa bersalah sama Bapak itu.

***

Dari pengalaman saya sih, mengajukan visa ke Jepang ini sama sekali enggak ribet. Asalkan, jangan kaya saya, baca dulu informasi sebanyak-banyaknya ya. Hahaha.

Silahkan buka link yang saya tautkan ke Kedubes Jepang untuk informasi lebih detail. Kalau ada pertanyaan, silahkan tulis di bagian comment di bawah ini. Semoga pengurusan visa Anda juga lancar seperti kami. Amiiin.


written on November 24, 2015 by @tesyasblog


Next Post:

Pakaian Musim Dingin Untuk Anak di Uniqlo



Previous Post:
Penginapan di Dekat Bandara Haneda Tokyo


17 comments:

  1. with bail banget ya jepang, percaya sama orang2 yg kerja di perusahaan jepang, PNS, dan BUMN :D *ngiri soalnya bukaan kerja di perusahaan jepang dan bukan PNS atau BUMN*

    ReplyDelete
  2. Duh gara2 autocorrect... ini maksudnya mau nulis "Wiiih baik banget ya Jepang" :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Kak Nanda, aku juga amaze waktu tau. Dan taunya pun telat:p

      Delete
  3. Kalo wiraswasta harus menyertakan rekening koran kah mbak? Slip gaji kan udah pasti ga ada

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba Muna, lampirkan aja rekening koran.

      Delete
  4. Aduuuh aku senyum2 sendiri ngebayangin mba Tesya deg2an nyari lem tapi abis itu dokumennya gak dipake 😓 tp akhirnya hepi ya mba bisa berangkat 😁

    ReplyDelete
  5. hai mbaaa :D setelah sukses jalan2 bertigaan ke sing, skrg lagi cari2 info jalan2 ke jepun xD jadi gini, kalo kita ngajuin visa ke jepun kan melampirkan rekening koran tuh. nah memang ga ada syarat minimal berapa, tapi untuk ancer2 paling ga per orang punya dana 1jt, nah kalau kita jalan sama balita, dihitung segitu juga ga yah? apa gimana? hehe makasih jawabannya mba :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1 juta per hari ya, per orang. Balitanya mah enggak usah diitung Mba. Ih asiknya mau ke Jepang:)

      Delete
  6. Mba.. mau tanya dong.. saya mau mengajukan visa jepang karena ga pake epasspor. karena saya kerja di bumn, berarti saya ga perlu menunjukkan dokumen mengenai tabungan kan ya? nah, untuk pasangan dan anak saya, masing2 mengisi formulir application tapi nanti saya sertakan keterangan kerja dan dokumen yg menunjukkan hubungan saya dengan pasangan dan anak, biar pasangan juga ga perlu menunjukkan dokumen tabungan lagi. bener begitu ga mba? terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mba, iya betul sekali...keluarganya berlaku surat keterangan Mba bekerja di BUMN.

      Delete
  7. Halo mbak..mau nanya. Suami sy PNS tapi untuk buku tabungan pake nama saya. Kalo seperti itu gpp ya untuk diajukan visa jepangnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau suami Mba PNS, tidak perlu buku tabungan Mba.

      Delete
  8. Hi Mbak mau tanya dong,

    Kami ada plan ke Jepang dgn istri.
    Kalau misal istri sudah e-paspor,suami paspor biasa.
    Ajukan visa Jepang gimana?

    Apakah tetap perlu dokumen seperti mengajukan visa dgn paspor biasa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas, untuk suami tetap mengikuti aturan pengajuan visa. Namun untuk istri hanya perlu waiver form satu lembar.

      Delete