Taman Wisata Alam Kapuk #mangrovejkt

Kunjungan ke Taman Wisata Alam Kapuk ini tidak kami rencanakan sebelumnya. Pada hari minggu di akhir bulan Maret yang lalu, rumah kami mendapatkan giliran pemadaman listrik dari jam 8 hingga 4 sore. Please deh, hari minggu pula! Tapi apa daya, namanya juga giliran, ya harus pasrah. Karena itu, kami berencana untuk menghabiskan hari ngadem di mall aja. Siang hari, kami mendapat telepon untuk menjemput oma dan opa di bandara Soeta karena kakak kami berhalangan menjemput, nah langsung deh kami terpikir untuk mengunjungi Taman Wisata Alam Kapuk yang searah dengan Soeta. Kami ingin memperlihatkan hutan bakau di Jakarta kepada kiddos. 

Hutan bakau pertama yang kami kunjungi adalah TAHURA (Taman Hutan Rakyat) di Denpasar (sayangnya waktu itu kiddos tidak ikut). Saya kagum dengan kerapihan Tahura, dan masih ingat betapa damai suasana di dalamnya. Cerita mengenai kunjugan kami ke Bali Mangrove dapat dibaca disini

Berbekal pengalaman mengunjungi hutan bakau sebelumnya, saya ingin sekali tau seperti apa mangrove di Jakarta. Setelah membayar ticket masuk Taman Wisata Alam Kapuk (Rp 10 ribu per orang untuk dewasa, Rp 5 ribu per orang untuk anak dan Rp 5 ribu untuk mobil), kami parkir dan berjalan ke dalam. Terdapat dua orang security yang memeriksa tas kami. Pengunjung tidak diperkenankan membawa kamera. Kalau ketauan bawa kamera, pengunjung harus membayar Rp 500 rb, termasuk kamera pocket loh. Namun kamera HP bebas dibawa masuk, jadilah kami yang saat itu sudah kehabisan batere hp kami, meminjam tab kiddos untuk ambil gambar:p

Taman yang berisi dua ekor kelinci adalah hal yang pertama kami lihat setelah melewati pemeriksaan tas oleh pak satpam. Sayangnya sang kelinci tidak juga mau keluar, padahal kami sudah bayar Rp 2.000 per orang untuk masuk ke taman kelinci ini. Ticket ke taman kelinci dapat dibeli di kantin yang terletak bersebelahan dengan taman kelinci.


Berjalan ke dalam, kami melihat villa di sekitar kantin yang disewakan untuk umum. Untuk infomasi biaya sewa, dapat dilihat melalui link ini. Di dekat villa terdapat playground, yang pastinya langsung diserbu oleh kiddos.


Kami berjalan ke arah camping ground, dimana pihak pengelola menyediakan tempat berupa rumah kayu yang dapat disewa dengan harga Rp 300 ribu per malam. Camping ground ini terlihat sangat terawat, namun sayang kami tidak sempat mengintip ke dalam. Tidak ada AC di camping ground, pengelola hanya menyediakan kipas angin. Jika ingin tau seperti apa dalamnya, anda dapat melihatnya di link ini. Sore itu saja area camping ground sangat sepi, wah bagaimana kalau malam ya?




Karena hari beranjak sore kami memutuskan untuk berjalan ke area wisata air. Di area ini kita dapat menyewa perahu kayu, canoe, ataupun perahu mesin. Awalnya kiddos#1 minta naik perahu kayu, namun mendengar pak petugas yang mengatakan bahwa perahu yang boleh keliling hanya perahu mesin, ia pun request untuk naik perahu mesin. Rupanya ia ingin keliling hutan bakau naik perahu. 

Harga sewa perahu kayu dan canoe Rp 50.000. Sedangkan perahu mesin yang kami sewa lumayan mahal, Rp 200 ribu untuk 6 orang, dan dapat dipakai berkeliling selama 45 menit. Angin sepoi-sepoi menemani kami keliling naik perahu, membuat kami betah berlama-lama berada di atasnya. Selain itu, kami pun disuguhi pemandangan burung yang hinggap di bakau dan dapat melihat biawak yang berenang di rawa! Kapan lagi kan. 

kiddos#2 sangat menikmati his boat trip
camping ground terlihat dari perahu 

Awan gelap terlihat semakin jelas, kami pun minta pak supir perahu untuk kembali ke dermaga. Walaupun kami tidak berhasil mendapatkan sunset sore itu, still it was a trip to remember.


How to get there:
Dari arah tol bandara, keluar ke arah tol kapuk muara. Kemudian ikuti petunjuk mengarah ke Waterboom. Dari Waterboom anda tinggal mengarah ke cluster Garden House. Taman Wisata Alam Kapuk berada tidak jauh dari sana.

written on April 4, 2013

No comments:

Post a Comment